![]() | |
| USG mengungkap dua jabang bayi. Saat dilahirkan hanya satu, kata RS. |
Raudiah Elva Ningsih mengakui telah
kehilangan satu dari dua bayi kembar yang dilahirkannya melalui proses operasi
sesar dengan bantuan tim medis di Rumah Sakit Harapan Jayakarta (RSHJ), Cakung,
Jakarta Timur.
Dalam sejumlah keterangannya saat
ini, Raudiah belum pernah memaparkan secara detail, proses kehamilan hingga
operasi sesar telah dilaksanakan. Raudiah baru mau berbicara panjang lebar saat
ditemui di Polres Metro Jakarta Timur, saat melaporkan RSHJ atas kasus itu pada
Senin, 20 Juni 2016, Raudiah menceritakan kronologis kejadiannya, jauh sebelum
dia melakukan persalinan, di usia kandungan tujuh minggu, dia memeriksakan
kandungan ke Puskesmas Jatipadang di Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
Saat itu, dilakukan proses perekaman detak jantung janin. Dia memperoleh hasil
bahwa janin yang dikandung ibu yang telah melahirkan delapan anak itu ternyata
kembar atau menurut bahasa medis dalam kondisi gemeli.
Ketika itu, tim medis memastikan
janinnya berkembang dengan baik. Karena, saat diperiksa, detak jantung janin
terdengar normal, dan dipastikan oleh tim medis bahwa terdapat dua suara detak
jantung yang terdengar dari alat medis.
"Ada dua detak jantung, semua pemeriksaan medis menunjukkan kalau
saya mengandung dua bayi," kata Raudiah .
Menurut Raudiah, dari 8 kali
mengandung, baru kali ini dia merasakan perbedaan yang menonjol selama ia
mengandung, ia merasakan sangat sesak. Tim medis di Puskesmas tersebut
menyatakan, hal itu biasa terjadi pada seorang ibu yang mengandung bayi kembar.
"Saya merasakan sesak luar
biasa saat itu, sampai saya tidak bisa tidur telentang dan miring. Karena kalau
saya tidur miring ke kiri, saya rasa nyeri dan janin saya goyang. Begitu juga
kalau saya tidur miring ke kanan. Sampai saya akhirnya mesti tidur duduk selama
dua bulan," kata Raudiah.
Satu Bayi Sungsang...
![]() |
| Foto: Hasil pemeriksaan USG RSUD Budhi Asih |
Ketika usia kandungan memasuki 31
minggu, Raudiah kembali memeriksakan kandungannya, kali ini ia memeriksakan
kandungan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Budhi Asih, Jakarta Timur.
Di RSUD ini, Raudiah menjalani
pemeriksaan yang lebih lengkap, yaitu menggunakan Ultrasonografi (USG), saat
pemeriksaan dilakukan, menurut Raudiah, sedikitnya ada lima saksi yang melihat
kondisi bayi kembar di dalam rahim melalui monitor USG.
"Jadi di Budhi Asih, saya di
USG, saat itu ada lima orang saksi ada tim medis, dokter, dan suami dan melihat
di layar monitor ada dua janin," katanya.
Dokter kandungan di RSUD Budhi Asih
menurut Raudiah memaparkan, kondisi kedua janin normal. Meskipun salah satu
janin dalam posisi lab bokong terbalik. Berat kedua janin juga normal, yakni
1,4 kilogram dan 1,6 kilogram.
"Dibilang salah satunya dengan
lab bokong normal satu lagi lab bokong sungsang atau terbalik, jenis kelamin
keduanya perempuan," ujar Raudiah.
Akhirnya menurut Raudiah, pihak RSUD
Budhi Asih mengeluarkan surat rujukan untuk melakukan persalinan di RSHJ.
Di hari yang telah diperkirakan,
pada 7 Mei 2016, Raudiah pun mulai mendapatkan perawatan pra persalinan di
RSHJ. Tapi, berdasarkan informasi yang didapati, setiba di RSHJ, Raudiah
melakukan proses USG melalui jalur tak resmi.
Dan, dari hasil USG tak resmi itu
juga didapatkan hasil yang sama, yakni, Raudiah mengandung bayi kembar.
Meskipun hasil USG itu tidak terdaftar resmi dalam data rekam pasien RSHJ.
Setelah proses USG tak resmi usai,
keesokan harinya, 8 Mei 2016, tim medis menyarankan persalinan dilakukan dengan
jalan operasi sesar, dengan pertimbangan, dari hasil surat rujukan RSUD Budhi
Asih, salah satu bayi berada dalam kondisi terbalik alias sungsang. Atas saran
itu, Raudiah akhirnya menempuh jalur operasi sesar.
"Saya sesar itu arahan dari
rumah sakit, padahal saya sudah 8 kali melahirkan dan semuanya normal. Tapi
kenapa ini disuruh sesar. Kalaupun mungkin alasan sesar karena bayinya kembar,
ini kenapa cuma satu pas lahirnya," katanya.
Kejanggalan
Sesar dan Bayi Hilang...
![]() |
| Foto: Suasana di RSHJ Cakung, Jakarta Timur. |
Raudiah menceritakan, pada hari itu,
tim dokter menjadwalkan operasi sesar dilaksanakan pukul 13.00 WIB. Tapi
ternyata tim dokter mempercepat proses operasi menjadi pukul 09.00 WIB.
"Ternyata dipercepat jadi jam 9
pagi. Dengan alasan dokternya mau pulang. Saya kemudian dibawa ke ruang operasi
dan saat mau menuju ruang operasi saya berpapasan dengan Dokter Zainuri. Di
sana bidannya bertegur sapa dengan Dokter Zainuri," ujar Raudiah.
Setiba di dalam ruang operasi,
Dokter Zainuri, menurut Raudiah meminta dirinya untuk duduk dan disuntik.
"Sama Dokter Zainuri ditanya nama, disuruh duduk, nungging disuntik, baru
dibelek," katanya.
Setelah itu, menurut Raudiah, dia
dimasukkan ke ruang bedah. Anehnya, di dalam ruangan terdengar suara musik
sangat keras. "Saat masuk itu nyetel musik kencang, lagunya Glenn Fredly
salah satunya," ujar Raudiah.
Saat operasi mulai berjalan, Raudiah
dalam kondisi sadar dan bisa melihat serta mendengar apapun yang terjadi di
sekitarnya. Tapi, usai operasi dilakukan, ia tak mendengar suara tangisan bayi.
"Dibius lokal, saya masih bisa
lihat dan bisa mendengar. Tapi waktu itu enggak mendengar tangisan bayi. Jadi
waktu bersalin juga saya ditutup kain putih dan kain warna hijau. Jadi enggak
bisa melihat bayinya. Tangan juga diikat," katanya.
Saat itu, ia hanya seorang diri
menjalani operasi sesar. Karena, tim medis melarangnya untuk didampingi siapa
pun termasuk suaminya. "Karena saat itu suami tidak boleh masuk kata pihak
rumah sakit," katanya.
Usai operasi, dokter menyatakan
Raudiah hanya punya satu bayi. Raudiah terkejut dengan jawaban itu. Ia pun
berusaha mempertanyakannya. Tapi, pada saat itu justru ia mendapat jawaban yang
kurang pantas dari seorang asisten dokter.
"Pas saya tanya, salah satu
asisten dokter malah marah-marah sama saya dan memaki saya. Saya tidak bisa
buat apa-apa karena saat itu, saya juga takut karena perut saya masih dijahit
sama dia, akhirnya seorang perawat laki-laki menghampiri saya dan menenangkan
saya," kata Raudiah.
Raudiah mengaku sangat sedih karena
dia telah menyiapkan dua nama untuk bayinya yakni Callyta Yuzira Silva dan
Callya Razeena Kivah. Namun, hanya Callyta yang ia terima.
editor : admin 2
sumber : news.viva.co.id


